Piala AFF berakhir sudah. Perhelatan telah ditutup. Juara telah ditahbiskan. Malaysia, sang juara baru, telah memperlihatkan perkembangan sepakbolanya dan telah menunjukkan kepada kita bangsa Indonesia bahwa perkara menang dan kalah bukanlah persoalan skill dan kualitas semata. Mereka menunjukkan bahwa mental yang kuat dapat berubah menjadi kemenangan.

Ya, kemenangan. Pada akhirnya Malaysia menjadi juaranya. Catatan 6 kali menang 1 kali kalah bagi Indonesia dan 3 kali menang 2 kali seri 2 kali kalah bagi Malaysia hanya tinggal catatan semata.

Tapi, kekalahan adalah hikmah.
Kesalahan adalah pelajaran.
Kejadian dapat membawa berkah, bagi yang mau melihat.

Saat pemain-pemain Indonesia “ngambek” karena laser, saat Maman dan Ridwan melakukan blunder fatal, saat pemain-pemain timnas berlari kesana kemari mencari bola yang seperti tidak kelihatan di Lapangan Bukit Jalil, dan saat Firman gagal mengeksekusi penalti adalah pertunjukan betapa buruknya mental pemain Indonesia…

Terlalu lama timnas dihujat,
Terlalu sering kegagalan mereka dianggap kesalahan,
Terlalu cepat rakyat menganggap kemenangan-kemenangan itu sebagai trofi.

Betul, pemain Indonesia sangat takut akan kegagalan. Rakyat melakukan perayaan besar-besaran setelah mereka menang atas Thailand dan Filipina. Indonesia pernah ke final 4 kali tapi selalu gagal. Mereka tak ingin gagal lagi!! Jika gagal kami akan dihujat banyak orang, jika kami gagal akan terjadi kerusuhan, jika kami gagal……

Ya, mental mereka telah jatuh sebelum pertandingan final dimulai. Urat-urat mereka telah lama menegang sebelum peluit awal pertandingan berbunyi. Mereka lupa bahwa sepakbola adalah permainan; dalam permainan akhirnya selalu ada menang dan kalah. Mereka lupa bahwa awalnya mereka bermain sepakbola karena mereka suka sepakbola, karena mereka mencintai sepakbola. Leg 1 menjadi sebuah pertunjukan mental mereka…… (saya rasa disini Riedl pun tersentak, ada apa dengan mereka?)

Leg 2 berjalan lebih baik. Suntikan moral pelatih cukup membantu, tapi sedikit, hanya sedikit. Hingga bukti muncul, Firman pun gagal penalti. Tapi sorak sorai penonton yang membahana selalu memberi mereka motivasi dan semangat mulai mengikis mental buruk itu. Mereka kembali berjuang dengan mental yang selama ini seharusnya mereka jaga. Tapi kenyataan berkata lain, bunyi peluit! Babak pertama berakhir…

Babak kedua dimulai. Mereka harus membangun kembali semangat yang sama. Tapi fisik mulai bicara, cedera mulai kembali terasa. Setelah menyerang ke depan sulit untuk kembali ke belakang. Gol! 0-1 untuk Malaysia. Mereka tak sempat lagi memikirkan sakitnya gol tersebut, mereka harus kembali berjuang. Tanpa sadar mereka kembali bermain sepakbola, bermain karena mereka suka, bermain karena mereka mencintai sepakbola. Akhirnya peluit panjang berbunyi, 2-1, kami menang, tapi kami kalah…..

Timnas pasti kecewa. Begitupun kami rakyat Indonesia. Tapi kami mencintai perjuangan kalian. Perjuangan kalian ketika mental terbaik itu kembali datang.

Kami rakyat Indonesia juga belajar untuk menjadi pendukung sejati. Sama seperti kalian yang belajar meningkatkan kualitas dan perjuangan kalian. Jadi, kami rasa sekaranglah saatnya kalian belajar untuk memiliki mental juara.
Jangan lagi takut berada di final. Jangan lagi grogi bermain di final.
Jangan lagi takut kami menghujat. Jangan lagi grogi karena kerusuhan.
Karena kalian suka sepakbola.
Karena kalian cinta sepakbola.
Karena kami akan selalu mendukung kalian.
Karena kami sudah belajar mendukung kalian, untuk memiliki mental mendukung kalian.
Dan karena kita semua cinta Indonesia!
Terbanglah lebih tinggi lagi Garuda!!