Seperti biasa, bis kota menjadi teman seperjalananku tiap harinya. Entah karena waktunya yang sama atau memang sudah jodohnya selama dua atau tiga minggu aku selalu bertemu dengan seorang anak pengamen yang sama di bis kota itu.

berjalan di lorong pertokoanastu

di Surabaya yang panjang …

bis kota..miring kekiri…

oleh sesaknya para penumpang ……..

Itu adalah syair yang selalu dinyanyikan olehnya setiap hari di atas bis kota. Aku ingat beberapa hari ini tak ada yang rela memberikan sedikit uangnya kepada bocah itu termasuk aku. Mungkin mereka sudah bosan mendengar lagu itu atau jangan-jangan sudah bosan melihat anak itu🙂. Hari ini aku mendapat tempat duduk di bangku paling belakang. Dan seperti kemarin kami para penumpang ditemani oleh nyanyian anak pengamen itu, setelah bernyanyi kulihat tak ada yang memberinya uang, kupikir kasihan juga sudah seminggu ini tak ada yang nyumbang. Akhirnya kuputuskan memberinya sedikit upah. Ketika memberinya sambil iseng aku bilang .”Dik, lagunya diganti ya jangan sama terus nanti dikira pengemis lho.” Trus dia menjawab “Tapi saya kan nyanyi mas”.”Iya kamu nyanyi tapi lagunya sama terus, kaya pengemis kan lagunya sama terus ‘minta sumbangan’. kalo pengamen kan menghibur orang lain, nah biar pendengarnya ga bosen lagunya ganti2 dong skalian biar nyanyinya juga tambah bagus, pasti banyak yang ngasih deh, ok?”Kataku lagi. Akhirnya dia manggut2 dan bilang mau belajar lagu baru.

Hari selanjutnya aku tak bertemu lagi dengannya di bis.Mudah-mudahan dia tak ada karena benar-benar belajar lagu baru, bukan karena kapok..:)