Minggu, Feb 26 2012 

var ccBM_ttl=2;

“Untuk Timnas”(Indonesia 2 – 4 Malaysia). It’s all about “mental” Kamis, Des 30 2010 

Piala AFF berakhir sudah. Perhelatan telah ditutup. Juara telah ditahbiskan. Malaysia, sang juara baru, telah memperlihatkan perkembangan sepakbolanya dan telah menunjukkan kepada kita bangsa Indonesia bahwa perkara menang dan kalah bukanlah persoalan skill dan kualitas semata. Mereka menunjukkan bahwa mental yang kuat dapat berubah menjadi kemenangan.

Ya, kemenangan. Pada akhirnya Malaysia menjadi juaranya. Catatan 6 kali menang 1 kali kalah bagi Indonesia dan 3 kali menang 2 kali seri 2 kali kalah bagi Malaysia hanya tinggal catatan semata.

Tapi, kekalahan adalah hikmah.
Kesalahan adalah pelajaran.
Kejadian dapat membawa berkah, bagi yang mau melihat.

Saat pemain-pemain Indonesia “ngambek” karena laser, saat Maman dan Ridwan melakukan blunder fatal, saat pemain-pemain timnas berlari kesana kemari mencari bola yang seperti tidak kelihatan di Lapangan Bukit Jalil, dan saat Firman gagal mengeksekusi penalti adalah pertunjukan betapa buruknya mental pemain Indonesia…

Terlalu lama timnas dihujat,
Terlalu sering kegagalan mereka dianggap kesalahan,
Terlalu cepat rakyat menganggap kemenangan-kemenangan itu sebagai trofi.

Betul, pemain Indonesia sangat takut akan kegagalan. Rakyat melakukan perayaan besar-besaran setelah mereka menang atas Thailand dan Filipina. Indonesia pernah ke final 4 kali tapi selalu gagal. Mereka tak ingin gagal lagi!! Jika gagal kami akan dihujat banyak orang, jika kami gagal akan terjadi kerusuhan, jika kami gagal……

Ya, mental mereka telah jatuh sebelum pertandingan final dimulai. Urat-urat mereka telah lama menegang sebelum peluit awal pertandingan berbunyi. Mereka lupa bahwa sepakbola adalah permainan; dalam permainan akhirnya selalu ada menang dan kalah. Mereka lupa bahwa awalnya mereka bermain sepakbola karena mereka suka sepakbola, karena mereka mencintai sepakbola. Leg 1 menjadi sebuah pertunjukan mental mereka…… (saya rasa disini Riedl pun tersentak, ada apa dengan mereka?)

Leg 2 berjalan lebih baik. Suntikan moral pelatih cukup membantu, tapi sedikit, hanya sedikit. Hingga bukti muncul, Firman pun gagal penalti. Tapi sorak sorai penonton yang membahana selalu memberi mereka motivasi dan semangat mulai mengikis mental buruk itu. Mereka kembali berjuang dengan mental yang selama ini seharusnya mereka jaga. Tapi kenyataan berkata lain, bunyi peluit! Babak pertama berakhir…

Babak kedua dimulai. Mereka harus membangun kembali semangat yang sama. Tapi fisik mulai bicara, cedera mulai kembali terasa. Setelah menyerang ke depan sulit untuk kembali ke belakang. Gol! 0-1 untuk Malaysia. Mereka tak sempat lagi memikirkan sakitnya gol tersebut, mereka harus kembali berjuang. Tanpa sadar mereka kembali bermain sepakbola, bermain karena mereka suka, bermain karena mereka mencintai sepakbola. Akhirnya peluit panjang berbunyi, 2-1, kami menang, tapi kami kalah…..

Timnas pasti kecewa. Begitupun kami rakyat Indonesia. Tapi kami mencintai perjuangan kalian. Perjuangan kalian ketika mental terbaik itu kembali datang.

Kami rakyat Indonesia juga belajar untuk menjadi pendukung sejati. Sama seperti kalian yang belajar meningkatkan kualitas dan perjuangan kalian. Jadi, kami rasa sekaranglah saatnya kalian belajar untuk memiliki mental juara.
Jangan lagi takut berada di final. Jangan lagi grogi bermain di final.
Jangan lagi takut kami menghujat. Jangan lagi grogi karena kerusuhan.
Karena kalian suka sepakbola.
Karena kalian cinta sepakbola.
Karena kami akan selalu mendukung kalian.
Karena kami sudah belajar mendukung kalian, untuk memiliki mental mendukung kalian.
Dan karena kita semua cinta Indonesia!
Terbanglah lebih tinggi lagi Garuda!!

Potret Penelitian di Indonesia Jumat, Des 18 2009 

Sesungguhnya penelitian sangat penting dalam menentukan maju serta berkembang tidaknya suatu Negara.. Ketua LIPI menyatakan bahwa hal ini akan sangat jelas jika kita melihat negara berkembang seperti Cina, India, dan Pakistan (Kompas 10 September 2003).

Presiden kita pada dasarnya meminta para ilmuwan untuk memikirkan, mengapa bangsa kita dahulu mampu membangun Borobudur? Mengapa kita dahulu bisa dan tercatat, mengapa sekarang tidak? Dahi saya berkerenyit, tampaknya Presiden kita kurang menerima informasi betapa pimpinan negara berkembang seperti Cina begitu getolnya mendukung penelitian. (lebih…)

Buat Apa Nulis…? Selasa, Nov 27 2007 

Begitu tersadar, ternyata waktu sudah berjalan berbulan-bulan cuma untuk mikirin pertanyaan : Buat apa sih gue nulis di blog? hehehe….Gitu deh kira-kira cara gue ngeles kalo ditanyain ko lama ga nulis-nulis lagi.

Ga dink, itu pertanyaan bodoh, bener2 pertanyaan bodoh karena kita ga bakal dapet jawabannya kalo kita mikirin pertanyaan itu. Mau meres otak, dipilin-pilin tuh otak, ampe dibejek-bejek kek sekalian ga bakal deh dapet jawaban yang ok. Mungkin kalo untuk sekedar jawaban yang memuaskan kita sendiri seh bisa aja.

Mo tau jawabannya? coba deh nulis terus, suatu saat dikau bakal tau jawabannya. So, kita bakal dapet jawabannya dengan melakukannya. Kita bakal tau jawabannya dengan melihat tulisan kita, kita bakal tau jawabannya saat kita beristirahat sesaat, n kita bakal tau jawabannya dengan melihat tulisan kita ke belakang. Kalo udah sampe situ, kita akan ngeliat jawaban-jawaban pertanyaan kita seperti jalan-jalan yang berada dalam jalur-jalur waktu di depan kita nanti.

Hehehe, ga usah bingung deh sama kata-kata gue di atas. Pokonya Silakan Baca-Mari Baca n Silakan Menulis-Mari Menulis, OK!!

Siip, Ngono ae ko repot🙂

Mental Indonesia Rabu, Mei 2 2007 

Kalau kita kumpulkan kejadian-kejadian dan kondisi yang menimpa Indonesia tercinta ini mungkin kita bisa menarik suatu kesimpulan sebetulnya bagaimana mental orang Indonesia atau apa yang terjadi pada mental kita sbagai pribadi maupun bangsa..
Banyak kecelakaan transportasi terjadi baik darat, laut, maupun udara…(kecenderungan tingkat manajemen yang rendah, tidak mau belajar dari kesalahan, atau tidak ada keinginan untuk belajar??)
Kejahatan yang semakin merajalela (menipisnya nilai nurani, berkurangnya kemampuan menentukan rasio, atau tuntutan hidup yang keras merubah kejahatan jadi kebaikan…)
Bencana datang silih berganti (kecenderungan lebih mampu merusak ketimbang membangun dan melestarikan..?, kecintaan terhadap materi mengalahkan segalanya, ataukah ini memang hukuman dari_NYA karena segala kesalahan kita?)

Hahaha… ternyata memang jauh lebih mudah mencari kesalahan dari pada kebaikannya, hhh…..begitulah manusia

IPDN = ? Selasa, Apr 17 2007 

Kira-kira apa ya yang bisa menerangkan apa itu IPDN..?

Institut Penganiayaan Dalam Negeri,

Institut Pembunuhan Dalam Negeri,

Inilah Potret Dalam Negeri,

Ingin Puas Dapet Naas,

……..

………

apa lagi ya…?

Tulisan tentang motivasi Senin, Nov 20 2006 

Akhir-akhir ini saya sering berpikir tentang keinginan saya di masa depan nanti. Apa yang saya inginkan? Ingin seperti apa saya nanti? Bagaimana cara saya mencapainya? Dan yang terakhir, apakah saya akan berhasil mencapainya?

Seseorang yang memiliki cita-cita atau impian biasanya memiliki bayangan tentang bagaimana caranya mencapai impian yang ingin diwujudkannya, jalur apa yang akan dilaluinya untuk mencapai impian itu, bahkan walaupun logika manusia menyatakan hanya satu itu jalur menuju ke sana…,hanya satu itu caranya ke sana…. Begitu egoisnya dirinya sampa-sampai dia sendiri yang menciptakan jalur untuk mencapai impiannya sendiri. Tapi bukankah dengan begitu terbentuk keinginan yang kuat untuk berhasil……..saya tak bisa menyangkalnya, tentu saja.

Namun, diluar semua itu ada makhluk yang bernama tantangan dan hambatan yang seringkali dianggap sebagai musuh dalam mencapai impian itu. sebenarnya ada makhluk lain yang sering diperdebatkan orang, yaitu kenyataan. Tapi sayangnya saya tidak termasuk ke dalam orang-orang tersebut🙂.

Bila akhirnya logika kita manusia mengatakan jalur kita mencapai impian sudah tertutup, terjadi kegundahan dalam diri saya. Timbul pertanyaan-pertanyaan…

Apakah saya harus merubah impian saya? Bagaimana jika itu adalah satu-satunya impian saya? Adakah yang bisa memberikan kepastian kepada saya bahwa ada jalur lain untuk mencapainya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya…..

Maafkan Aku…. Rabu, Sep 13 2006 

Lama waktu berlalu

tak terasa 3 bulan berjalan

banyak yang terjadi padaku

hingga kulupa padamu kawan

maafkan aku…

lama sekali ku tak bicara

lama sekali kutak berbagi

egois

bisu

maafkan aku…

Minggu Pertama di Tempat Baru Selasa, Jul 11 2006 

CPNS BAPETENYang terpikir pertama kali ketika aku pindah di tempat kerja yang baru yaitu bingung bagaimana caranya supaya bisa nulis blog & chatting lagi😦, soalnya disini aku belum mendapatkan fasilitas komputer dan sepertinya masih belum dianggap ada. “Biasanya ngeblog jadi seperti orang goblog, biasanya chatting jadi seperti orang sinting” begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkan minggu pertamaku di sini..

Minggu kedua telah dimulai, aku sudah mulai melihat sedikit cahaya dan kelihatannya para senior juga karena sepertinya aku sudah mulai dianggap ada. Aku sudah mulai diberikan sedikit otoritas untuk memakai beberapa komputer di sana. Akhirnya dari mencuri-curi waktu di tengah pekerjaanku aku bisa menulis blog yang singkat ini, tapi cukuplah untuk melepas dahagaku selama ini. Rasanya senang sekali…lega…dan bisa bernapas lagi…

Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi lewat tulisanku lagi dalam waktu dekat. Oh ya, tidak lupa kuucapkan “Adios Germany 2006!”(hatiku tetap untukmu Jerman)

germany

Anak Pengamen = Pengemis Rabu, Jun 28 2006 

Seperti biasa, bis kota menjadi teman seperjalananku tiap harinya. Entah karena waktunya yang sama atau memang sudah jodohnya selama dua atau tiga minggu aku selalu bertemu dengan seorang anak pengamen yang sama di bis kota itu.

berjalan di lorong pertokoanastu

di Surabaya yang panjang …

bis kota..miring kekiri…

oleh sesaknya para penumpang ……..

Itu adalah syair yang selalu dinyanyikan olehnya setiap hari di atas bis kota. Aku ingat beberapa hari ini tak ada yang rela memberikan sedikit uangnya kepada bocah itu termasuk aku. Mungkin mereka sudah bosan mendengar lagu itu atau jangan-jangan sudah bosan melihat anak itu🙂. Hari ini aku mendapat tempat duduk di bangku paling belakang. Dan seperti kemarin kami para penumpang ditemani oleh nyanyian anak pengamen itu, setelah bernyanyi kulihat tak ada yang memberinya uang, kupikir kasihan juga sudah seminggu ini tak ada yang nyumbang. Akhirnya kuputuskan memberinya sedikit upah. Ketika memberinya sambil iseng aku bilang .”Dik, lagunya diganti ya jangan sama terus nanti dikira pengemis lho.” Trus dia menjawab “Tapi saya kan nyanyi mas”.”Iya kamu nyanyi tapi lagunya sama terus, kaya pengemis kan lagunya sama terus ‘minta sumbangan’. kalo pengamen kan menghibur orang lain, nah biar pendengarnya ga bosen lagunya ganti2 dong skalian biar nyanyinya juga tambah bagus, pasti banyak yang ngasih deh, ok?”Kataku lagi. Akhirnya dia manggut2 dan bilang mau belajar lagu baru.

Hari selanjutnya aku tak bertemu lagi dengannya di bis.Mudah-mudahan dia tak ada karena benar-benar belajar lagu baru, bukan karena kapok..:)

Laman Berikutnya »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.