Sesungguhnya penelitian sangat penting dalam menentukan maju serta berkembang tidaknya suatu Negara.. Ketua LIPI menyatakan bahwa hal ini akan sangat jelas jika kita melihat negara berkembang seperti Cina, India, dan Pakistan (Kompas 10 September 2003).

Presiden kita pada dasarnya meminta para ilmuwan untuk memikirkan, mengapa bangsa kita dahulu mampu membangun Borobudur? Mengapa kita dahulu bisa dan tercatat, mengapa sekarang tidak? Dahi saya berkerenyit, tampaknya Presiden kita kurang menerima informasi betapa pimpinan negara berkembang seperti Cina begitu getolnya mendukung penelitian.

Gambar 1. Rendahnya jumlah publikasi riset dari Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga (Terry Mart,UI)

“Amerika di bawah pemerintahan Barack Obama baru mulai fokus dan sudah mengalokasikan dana sekitar 28, 9 persen untuk riset bioteknologi” (LIPI, www.forumsdm.org).

“Akibat kurangnya daya serap dana insentif bagi periset dan perekayasa tahun 2009, pemerintah memutuskan mengurangi alokasi anggaran dana riset hingga 39 persen untuk tahun 2010” (KOMPAS, 19 Oktober 2009).

“Sumber daya manusia Indonesia belum siap bekerja dengan sistem yang baik serta lemahnya dukungan infrastruktur. “Metode, peralatan, penghargaan yang kurang, koordinasi, dan banyak hal” (Gunawan Setyo Prabodo, LAPAN).

Suatu paper dikatakan berkualitas jika semakin banyak orang lain yang karya papernya mengacu pada paper tersebut. Topcite Olympics 2004 menempatkan Amerika Serikat sebagai negara yang paling banyak menghasilkan paper yang berkualitas (paling banyak diacu oleh paper lain).

Kurangnya Minat dan Kesadaran Mengenai Penelitian di Indonesia

Kurangnya kesadaran dan minat kearah penelitian sangat memicu kemunduran penelitian di Indonesia., Dari 130 ribu jenis tumbuhan paku-pakuan yang ada di Indonesia, jumlah peneliti yang fokus mempelajarinya kurang dari 10 orang (Koran Jakarta, 6 Desember 2009)..

Untungnya, mereka dapat menerima kenyataan tersebut. Dapat dibayangkan betapa sulitnya untuk tetap konsisten di bidang ini. “Saya juga tidak dapat menahan salah seorang staf dari grup saya yang mendapat posisi sebagai research associate di salah satu universitas di Amerika untuk tetap tinggal di republik ini karena saya tidak dapat menjanjikan apa-apa”(Terry Mart,UI).

Faktor Penyebab Sulitnya Perkembangan Penelitian di Indonesia (Penelitian Teori pun Sulit!)

Banyak yang berpendapat bahwa ilmuwan di negara kita yang bergerak di bidang teori fisika atau kimia dapat lebih mudah berkontribusi di komunitas internasional. Tentu saja pendapat ini sangat menyesatkan.

Banyak pula anggapan bahwa seorang teoritikus hanya membutuhkan selembar kertas dan sebatang pensil, sehingga biaya penelitian sangat murah. Anggapan ini sama gegabahnya dengan anggapan bahwa seorang petani hanya membutuhkan sebatang cangkul dan sebidang tanah untuk dapat menjadi pengekspor beras yang dapat bersaing di pasar internasional. Justru apa yang saya lihat adalah kebalikannya. Banyak sekali peneliti-peneliti eksperimental dapat berkarya di taraf internasional secara konsisten hingga mereka memasuki masa pensiun. Dua di antara mereka yang sangat mudah saya ingat adalah Prof. Muhammad Barmawi dan Prof. Tjia May On dari ITB Bandung. Lalu apa yang membuat penelitian bidang teori sulit dilakukan di negara kita. Jawabannya pernah dilontarkan oleh Prof. Tjia: you have to be unusual. Beliau sendiri aslinya adalah seorang fisikawan partikel teori, namun karena kondisi saat itu ia (bersama-sama dengan Prof. Barmawi) beralih ke eksperimen.

Dukungan infrastruktur juga masih lemah. Untuk tetap dapat survive di bidang ini seorang peneliti harus selalu berada dekat dengan komunitasnya. Komunikasi dengan internet memang membantu, namun tidak seefektif jika para peneliti dapat bertatap muka, duduk bersama-sama dengan koleganya dari mancanegara untuk mendiskusikan problem penelitiannya tanpa diganggu pekerjaan-pekerjaan lain.

Faktor lain yang memang alami adalah faktor publikasi. Mungkin karena membuat suatu teori jauh lebih cepat dibandingkan dengan melakukan eksperimen, konsekuensinya hanya sekitar 20% paper di bidang ini yang diterima untuk di publikasi di jurnal-jurnal internasional, sementara sisanya ditolak. Hal yang berbeda terjadi pada penelitian eksperimen, di mana hanya sekitar 20% paper eksperimen yang ditolak.

Kesemua problem di atas mungkin bukan apa-apa jika dibandingkan dengan problem kreativitas. Dibutuhkan kreativitas dalam menghasilkan ide untuk menghasilkan suatu penelitian.

Kurangnya Mentalitas yang Percaya Diri Dan Mandiri

Besar dana total yang kita keluarkan untuk riset, dan faktor-faktor lainnya mungkin tidak akan menemukan penyelesaian jika masalah sebenarnya dari suatu bangsa adalah mental. Pada kenyataannya, demikianlah bangsa kita.

Panjangnya masa penjajahan di negeri ini sesungguhnya menjadi faktor pemicu paling kuat dalam membentuk mental bangsa ini. Membentuk budaya bangsa ini. Masa 3,5 abad berada di bawah kaki Belanda telah menghancurkan harga diri bangsa yang begitu cemerlang di masa lalu. Borobudur dan Prambanan yang dahulu menjadi kebanggaan bangsa menjadi tidak berarti apa-apa oleh karena penderitaan panjang bangsa ini.

Ambisi dan Wawasan

Fisikawan Pakistan peraih hadiah Nobel almarhum Abdus Salam pernah mengatakan bahwa salah satu kelemahan ilmuwan di negara-negara berkembang adalah kurangnya ambisi untuk menguasai sains dan teknologi. Hal ini mungkin disebabkan oleh latar belakang budaya serta kurangnya wawasan sains dari para pemimpinnya.

Faktor lain yang juga kurang mendukung adalah minimnya wawasan sains dari para pemimpin republik ini. Tidak pernah terdengar gagasan cemerlang dari para pemimpin bahwa investasi di bidang ilmu dasar merupakan tabungan masa depan yang sangat berharga. Para pemimpin juga berpikir instan, untuk apa membiayai penelitian yang mengawang-awang dan tidak membumi namun membutuhkan biaya mahal. Ada pula anggapan bahwa penelitian ilmu dasar tidak mendukung pembangunan nasional karena saat ini tidak dibutuhkan rakyat dan penelitian ilmu dasar seharusnya digali dari tradisi dan kejayaan bangsa di masa lalu. Kesemuanya menunjukkan kurangnya wawasan sains dari para pemimpin republik ini.

Bukan Hanya Misi Sosial

Banyak orang beranggapan bahwa misi yang diemban oleh peneliti ilmu dasar adalah misi sosial, karena sifat ilmu dasar yang lebih ditujukan untuk menyibak rahasia alam atau menjelaskan mekanisme proses-proses yang berlangsung di alam. Banyak pula yang beranggapan bahwa penelitian ilmu dasar hanyalah untuk memuaskan dahaga keingintahuan para ilmuwan. Pendapat ini tentu saja tidak bisa disalahkan, karena memang kedua hal tersebut merupakan pemicu utama aktivitas penelitian di bidang ini.

Namun, manfaat penelitian tidak hanya berhenti di sana.

Penelitian ilmu dasar tidak pernah henti-hentinya mendorong manusia hingga ke batas kemampuannya. Di dalam penelitian fisika partikel, misalnya, dibutuhkan medan magnet dan listrik sekuat mungkin guna mendorong partikel untuk bergerak secepat mungkin sambil menjaga lintasannya seakurat mungkin. Untuk membuat medan magnet yang sangat kuat dibutuhkan superkonduktor yang sangat stabil serta pendingin untuk temperatur sangat rendah. Teknologi yang ada kadang-kadang belum dapat mengakomodir keperluan ini. Namun, keterbatasan teknologi sering melahirkan inovasi-inovasi baru yang memiliki aplikasi luas meski tidak pernah diduga sebelumnya.

Dengan demikian dana yang ada dapat dipakai untuk mengembangkan seluruh aspek kehidupan dalam suatu Negara, baik ilmu pengetahuan maupun teknologi dan industri.

Insight

Dari pembahasan di atas jelas bahwa problem penelitian di Indonesia bukanlah hal sederhana. Solusinya pun tidak sederhana, karena banyak faktor yang “mendukung” problem tersebut, mulai dari si peneliti hingga system yang berlaku di republik ini. Meski demikian bukan berarti tidak ada jalan keluar dari permasalahan besar ini. Dari beberapa rekomendasi yang diajukan di atas terlihat bahwa peran serta pemerintah merupakan kunci keberhasilan kita untuk melewati tantangan ini.

5. Saran

Selama ini, kekurangan dana baik untuk penelitian maupun untuk biaya hidup si peneliti telah menjadi semacam “excuse” untuk tidak melakukan riset. Meski di satu sisi anggapan ini dapat benar, namun disisi lain anggapan ini dapat menjadi berbahaya. Untuk dapat melakukan penelitian, bukan hanya biaya yang diperlukan. Kemampuan sang peneliti serta lingkungannya merupakan faktor yang sangat menentukan. Jika dana ada namun sang peneliti tidak mampu melakukan penelitian sendiri (karena selalu dibimbing oleh peneliti senior atau mantan Profesornya) tentu saja penelitian tidak akan berjalan. Jika lingkungan tidak menghargai penelitian atau peraturan yang ada tidak memaksa peneliti untuk melakukan penelitian, maka si peneliti akan kehilangan motivasi. Dengan kondisi yang ada saat ini, tampaknya bukan hanya uang yang menjadi masalah penelitian di Indonesia. Sudah saatnya kita menata ulang manajemen riset kita (yang mungkin belum pernah ada).

Transformasi beberapa universitas negeri menjadi BHMN serta komitmen beberapa universitas untuk menjadi research university merupakan momen yang sangat potensial untuk digunakan. Para profesor sebagai ujung tombak penelitian harus di”paksa” untuk profesional. Keprofesionalan mereka dapat dengan mudah diukur dari lamanya waktu yang mereka habiskan di laboratorium dibandingkan waktu yang dihabiskan di luar sebagai konsultan, dosen, atau rektor universitas swasta, misalnya.

Dalam kondisi infra-struktur dan keuangan yang serba terbatas tidak ada cara lain bagi pemerintah kita selain memperkerjakan para peneliti militan. Apa yang saya maksud dengan peneliti militan ini adalah peneliti yang sanggup hidup di bawah garis kemakmuran (bukan garis kemiskinan) sambil melakukan penelitian yang bertaraf internasional. Peneliti yang realistis dan pragmatis tentu saja hanya akan berhasil di negara maju, namun seorang peneliti militan akan menggunakan segenap cara untuk terus eksis dalam komunitasnya.

Proses penetapan riset unggulan harus bersifat bottom-up. Selama ini proses tersebut dilakukan oleh para birokrat (top-down). Kalaupun melibatkan segelintir peneliti, maka hanya peneliti kalangan atas yang didengar. Sementara keinginan serta keunggulan mayoritas para peneliti yang berkutat di dalam laboratorium tidak pernah diketahui. Proses yang terjadi selama ini dapat diibaratkan membangun atap rumah tanpa mempedulikan tiang dan pondasinya. Agar dapat bersifat bottom-up pemerintah harus memfasilitasi pembentukan dan pertemuan (berupa workshop) para peneliti sebidang.

Kriteria riset yang baik pun harus dikaji ulang. Agak sulit untuk mendapatkan criteria baku bagi semua disiplin ilmu, namun untuk bidang sains dan teknologi tampaknya riset yang baik akan menghasilkan paling tidak satu dari tiga poin berikut:

  1. Produk atau inovasi baru yang bermanfaat untuk industri
  2. Paten
  3. Publikasi di jurnal internasional.

Pada akhirnya marilah kita selalu berusaha mengembangkan sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan kehidupan kita bersama di masa depan. Segala jenis penelitian, asal dilakukan dengan kaidah dan kualitas yang baik akan dapat “dijual” dan sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Referensi

  1. “Jangan Abaikan Penelitian yang Bersifat Fundamental”, Kompas, 10 September 2003.
  2. www.indonesiabuku.com.
  3. David C. Stolinsky and Ellis Rubinstein, “China’s Leader Commits to Basic Research, Global Science”, Science 289, 548, 2000.
  4. Salomo Simanungkalit, “Tjia May On”, Kompas, 31 Maret 2002.
  5. Terry Mart, “Manajemen Riset Kita Salah”, Kompas, Rabu, 9 Maret 2005.
  6. www.kompas.com
  7. www.forumsdm.org