Beberapa waktu lalu saya mengantarkan kakak saya yang punya janji dengan kawannya.Lokasi janjiannya di Jl Jend. Sudirman, tempat tepatnya saya tidak begitu mengerti pokoknya di sekitar Universitas Sahid lah kira-kira. Sesampainya di sana ternyata sang kawan belum datang, akhirnya sambil menunggu saya ngobrol-ngobrol dengan seorang lelaki, Mas Mono namanya, yah kira-kira 35 tahunanlah umurnya. Ternyata dia adalah penjual Ayam Bakar yang ada tidak jauh dari tempat kami ngobrol. Saya akan coba menarasikan kisah hidup Mas Mono yang sangat mempengaruhi diri saya.
Beberapa tahun ke belakang Mas Mono adalah seorang Office Boy di salah satu perusahaan yang berlokasi di kawasan perkantoran Sudirman. Melihat kawannya bekerja di depan komputer dia sangat tertarik untuk bisa mempelajarinya. Katanya sih kalo bisa komputer dia bisa jadi staff seperti kawannya itu. Setelah bisa komputer dan suka mbantu2 kawannya sang atasannya tertarik padanya, kebetulan waktu itu memang sedang dibutuhkan staff karyawan. Akhirnya jadilah Mas Mono Staff yang berhadapan dengan komputer. Tanpa sadar waktu berjalan cukup lama dan dengan sifat rajin yang dimilikinya Mas Mono mendapat kenaikan pangkat hingga mencapai level "Manager Operasional".Tetapi setelah dia menjadi Manager Operasional, lha ko dia terus resign dan lalu berjualan Ayam Bakar di Jalan Sudirman itu. Mas Mono mendapatkan jauh lebih baik dari segi financial dan usahanya telah berkembang hingga dia telah punya 6 cabang saat ini dengan label "Ayam Bakar Mas Mono". Sambil tak habis pikir saya bertanya kepadanya kenapa mengambil keputusan seperti itu, lalu dia menjawab begini :
"Kamu kaya ga punya Tuhan aja De, padahal semua di dunia ini ya punya Dia. Saya mengambil keputusan begitu ya karena alasan Dia juga. Saya memilih bekerja begini karena disini saya tidak pernah merasa menjatuhkan orang atau dijatuhkan orang, disini saya tidak pernah merasa menghambat orang atau dihambat orang,dan disini saya tidak pernah merasa menjahati orang atau dijahati orang.Di pekerjaan saya yang dulu sebaliknya, Kamu tahu kan bagaimana di perkantoran."
Kalau tidak salah seperti itu jawaban dia. Terus terang saya mendapatkan banyak hal darinya, motivasi, percaya diri, dan keberanian untuk maju dengan cara yang lebih baik.Mas Mono adalah salah satu potret kesuksesan yang datang dari kesuksesan sebelumnya, bukan dari kesuksesan yang datang dari kegagalan seperti yang umumnya terjadi. Ia berpindah haluan hanya untuk mencari jalan yang lebih baik.Terima kasih Mas Mono, semoga Mas Mono dan keluarga selalu bahagia dan dan terus berkembang usahanya…
Mei 26, 2006 pukul 11:08 am |
Salut buat mas Mono… Two thumbs up!! Ternyata masih ada nurani di belantara Jakarta ini. Semoga barokah 4JJl selalu dilimpahkan kepada mas Mono sekeluarga. Saya belajar hal penting dari artikel ini.
Mei 30, 2006 pukul 10:40 am |
hebat tenan……. apalagi ayam bakarnya enak tenan….
aku udah pernah makan ayam bakarnya di cabang tebet, sambelnya….. top banget deh!!!!!!
dari kalangan seleb sampai orang biasa pernah makan di tempatnya…..
akan lebih asik lagi bila suatu hari pak ncip yg budiman mau nraktir kita semua di ayam bakar mas mono
Juni 6, 2006 pukul 10:29 am |
Memang Tuhan tidak pernah tidur………manjada wa jada!!!
April 24, 2009 pukul 11:27 am |
Salut buat mas Mono …. apapun bisnis kita patut kita contoh cara berpikir-nya mas mono …. emang lebih enak jadi tuand rumah daripada jadi tamu (karyawan) …..